Kebiasaan wisatawan yang harus dihindari sering tidak disadari karena terlihat sepele. Datang tanpa riset, memaksakan jadwal, atau mengabaikan aturan tempat wisata adalah contoh kebiasaan yang dampaknya baru terasa ketika perjalanan sudah berjalan. Kabar baiknya, semua kebiasaan ini bisa diperbaiki dengan penyesuaian kecil sebelum dan selama liburan.
Artikel ini tidak dimaksudkan untuk membuatmu overthinking setiap langkah. Sebagian besar masalah perjalanan bisa dihindari dengan persiapan sederhana dan sedikit kepekaan terhadap tempat serta orang di sekitar. Berikut penjelasannya, dikelompokkan berdasarkan waktunya.
Kebiasaan Sebelum Berangkat yang Sering Merugikan

Banyak masalah perjalanan sebenarnya lahir sebelum kamu meninggalkan rumah. Riset yang asal-asalan membuat kamu kehilangan hal menarik atau justru menjadwalkan tempat yang sedang tutup. Perkiraan biaya yang terlalu rendah membuat pengeluaran melenceng jauh. Dokumen yang tidak dicek bisa membatalkan perjalanan sama sekali.
• Tidak memeriksa dokumen, tiket, dan syarat perjalanan jauh-jauh hari.
• Menunda pesan akomodasi atau transportasi saat musim ramai.
• Membuat jadwal padat tanpa tahu jarak antar destinasi.
• Tidak menyiapkan uang tunai untuk tempat tanpa pembayaran digital.
• Mengabaikan prakiraan cuaca dan musim setempat.
Kebiasaan Wisatawan yang Harus Dihindari Selama Perjalanan
Di Destinasi Wisata
Kebiasaan paling umum adalah memperlakukan destinasi sebagai latar foto. Mendaki pagar, menyentuh benda bersejarah, atau memaksakan sudut foto dengan mengganggu pengunjung lain adalah contoh yang sering terlihat. Beberapa tempat juga punya aturan khusus, misalnya larangan tripod, area yang tidak boleh dimasuki, atau ketentuan pakaian. Aturan semacam ini biasanya dipasang dengan alasan keselamatan atau penghormatan.
Kebiasaan lain adalah mengejar jumlah tempat. Berpindah cepat dari satu destinasi ke destinasi lain membuat kamu tidak sempat memahami apa yang dilihat. Kalau tujuannya berlibur, kecepatan semacam ini justru mengurangi kualitasnya. Lebih baik sedikit tempat dengan waktu cukup daripada banyak tempat tanpa kenangan yang berarti.
Dalam Interaksi dengan Warga Lokal
Warga setempat bukan bagian dari pemandangan. Mengambil foto tanpa izin, berbicara dengan nada meremehkan, atau menawar berlebihan pada penjual kecil adalah kebiasaan yang merusak suasana. Sebaliknya, sapaan singkat, pertanyaan yang sopan, dan keinginan memahami kebiasaan setempat biasanya dibalas dengan keramahan.
Perhatikan juga kebiasaan berpakaian dan berperilaku di tempat ibadah atau kawasan adat. Beberapa area memiliki norma yang lebih ketat. Mempelajari hal ini sebelum berkunjung tidak butuh waktu lama, tetapi menunjukkan penghormatan yang biasanya dihargai warga.
| Kebiasaan | Dampak yang Sering Terjadi | Alternatif yang Lebih Baik |
| Menunggu harga tiket naik baru memesan | Biaya membengkak atau pilihan habis. | Amankan pilihan utama lebih awal. |
| Mengabaikan jam operasional | Datang ke tempat yang sedang tutup. | Cek jadwal resmi sebelum berangkat. |
| Membuang sampah sembarangan | Lingkungan kotor dan aturan dilanggar. | Bawa kantong sampah kecil sendiri. |
| Berteriak atau memutar musik keras | Mengganggu pengunjung dan warga. | Gunakan earphone dan jaga volume suara. |
| Menaiki atau menyentuh objek terlarang | Rusaknya objek atau risiko keselamatan. | Ikuti batas dan rambu yang terpasang. |
Kesehatan dan Kelelahan yang Diabaikan
Perjalanan sering membuat orang melupakan jam makan, minum, dan obat rutin. Jadwal padat ditambah cuaca yang berbeda dari kota asal bisa memicu sakit di tengah liburan. Bawa obat dasar seperti obat demam, diare, dan pelepas nyeri, serta simpan di tas yang mudah dijangkau. Kalau ada peserta dengan kondisi kesehatan khusus, pastikan kebutuhannya masuk ke dalam rencana harian.
Kelelahan juga menunda keputusan dan memperbesar emosi. Banyak pertengkaran kecil di perjalanan sebenarnya lahir dari lapar dan lelah, bukan dari masalah yang sesungguhnya. Ketika suasana mulai memanas, berhentilah sejenak, cari tempat duduk, minum, lalu lanjutkan diskusi setelah semua orang lebih tenang.
Keamanan Barang dan Data Diri
Kebiasaan menaruh semua uang dan kartu di satu dompet berisiko besar. Pisahkan uang ke beberapa tempat, misalnya sebagian di dompet, sebagian di tas kecil di dalam pakaian, dan sebagian di kamar atau loker. Fotokopi atau simpan salinan digital dokumen penting agar proses pengurusan lebih mudah jika ada yang hilang.
Di tempat ramai, biasakan mengecek tas setelah berdiri dari duduk dan tidak meletakkan telepon di meja makan tepi jalan. Jangan membagikan detail perjalanan kepada orang asing yang baru dikenal, termasuk nomor kamar atau rencana keesokan harinya. Kewaspadaan secukupnya sudah cukup untuk menutup celah yang paling sering terjadi.
Kebiasaan di Dunia Digital
Mengunggah cerita berisi lokasi saat sedang berada di tempat tersebut memberi tahu banyak orang bahwa kamu sedang tidak di rumah atau sedang berjalan sendiri. Kalau ingin tetap membagikan momen, pertimbangkan untuk mengunggah setelah berpindah tempat atau setelah perjalanan selesai. Selain lebih aman, kamu juga lebih fokus menikmati momen daripada sibuk memikirkan sudut kamera.
Kebiasaan digital lain yang mengganggu adalah berjalan sambil menatap layar. Di area wisata, orang yang berjalan sibuk mengetik sering menabrak pengunjung lain atau melewati pemandangan yang sebenarnya ia cari. Berhentilah di tempat aman dulu jika perlu membalas pesan, lalu lanjutkan perjalanan setelah selesai.
Kebiasaan yang Menghabiskan Uang Secara Tidak Perlu
Belanja impulsif di awal perjalanan adalah salah satunya. Oleh-oleh yang dibeli di hari pertama sering lebih mahal daripada di tempat yang sama beberapa hari kemudian, dan kamu belum tahu apa yang benar-benar khas daerah tersebut. Kebiasaan lain adalah menukar uang di tempat dengan kurs buruk atau mengandalkan satu metode pembayaran saja.
• Membeli suvenir tanpa membandingkan harga terlebih dahulu.
• Makan di tempat termahal pertama yang ditemui karena lapar.
• Tidak mencatat pengeluaran harian.
• Mengabaikan biaya kecil seperti parkir dan bagasi.
Cara Melatih Kebiasaan Perjalanan yang Lebih Baik
Perubahan tidak perlu radikal. Mulailah dengan menyiapkan daftar periksa sebelum berangkat: dokumen, tiket, jadwal, cuaca, dan perkiraan biaya. Selama perjalanan, biasakan berhenti sejenak sebelum memutuskan, terutama ketika lelah atau terburu-buru, karena keputusan terburuk biasanya lahir di kondisi tersebut.
Setelah pulang, luangkan waktu menilai perjalanan. Catat apa yang membuat lelah, apa yang bisa disederhanakan, dan apa yang ingin dicoba lagi. Catatan sederhana ini menjadi modal untuk perjalanan berikutnya yang lebih nyaman. Perjalanan yang baik adalah hasil kebiasaan yang terus diperbaiki, bukan bakat.
Kenali Kebiasaanmu Sendiri Sejak Awal
Kebiasaan wisatawan yang harus dihindari pada akhirnya berkaitan dengan cara kita memperlakukan waktu, uang, tempat, dan orang lain. Semua bisa diperbaiki asalkan kamu mau menilai dengan jujur perjalanan-perjalanan sebelumnya. Sedikit riset, jadwal yang manusiawi, dan penghormatan pada tempat yang dikunjungi sudah menghilangkan sebagian besar masalah.
Satu hal yang perlu diingat: kewaspadaan bukan berarti curiga pada semua orang. Sebagian besar orang yang kamu temui di perjalanan tidak bermaksud buruk, dan banyak di antaranya justru membantu. Yang perlu dihindari adalah kecerobohan, bukan interaksi sosial. Bedakan keduanya, dan perjalananmu akan tetap terasa hangat sekaligus aman.
Kalau kamu ingin mengurangi beban perencanaan sendiri, kamu bisa memanfaatkan paket wisata Jogja dari Wisata Happy. Rute, akomodasi, dan destinasi dapat dikonsultasikan agar perjalanan berjalan sesuai kebutuhan tanpa harus mengulang kesalahan yang sama.
Perjalanan yang nyaman tidak lahir dari keberuntungan. Ia lahir dari kebiasaan kecil yang disadari dan diperbaiki. Mulai dari perjalanan berikutnya, coba ubah satu kebiasaan lama yang biasanya mengganggu, dan rasakan bedanya.